Ta’jilun Nada Seri 006

📮 Materi 0⃣0⃣7⃣-1⃣
📜 Halaman 11-12
📅 Selasa, 14 Muharram 1437 H / 27 Oktober 2015 M

الكلمة وأقسامها
KATA DAN JENIS-JENISNYA

قوله: (الْكَلِمَةُ قَوْلٌ مُفْرَدٌ) بدأ المصنف – رحمه الله تعالى – بتعريف الكلمة. لأنها موضوع هذا العلم، ولأن الكلمة جزء الكلام، والجزء مقدم على الكل .

Penyusun Qathrun Nada, Ibnu Hisyam rahimahullah berkata :

الْكَلِمَةُ قَوْلٌ مُفْرَدٌ

“Kata adalah ucapan yang berbentuk mufrad.”

Penyusun kitab Ta’jilun Nada, Syaikh Abdullah Al Fauzan hafidhahullah berkata :
Penulis [yaitu penulis Qathrun Nada, Ibnu Hisyam] rahimahullah memulai dengan mendefinisikan kata, karena :

👉‘kata’ merupakan bidang pembahasan ilmu [Nahwu] ini.

👉‘kata’ adalah bagian dari kalimat, dan bagian dari sesuatu didahulukan atas keseluruhan dari sesuatu itu. [Maksudnya, penjelasan tentang bagian-bagian dari sesuatu hendaknya didahulukan daripada penjelasan tentang sesuatu itu secara global].

والقول : هو اللفظ الدال على معنى مفيدٍ أو غير مفيد، مفرداً كان أم مركباً نحو : خالد، ونحو: خرج الغلام. ونحو : إن خرج .

Dan القول (ucapan) adalah lafadz yang menunjukkan kepada sebuah makna yang berfaidah [makna yang sempurna] atau makna yang tidak berfaidah [tidak sempurna]. Baik lafadz itu masih sendirian atau sudah digabung dengan kata yang lain. Misal :
خَالِدٌ
[Contoh di atas adalah contoh untuk lafadz yang belum digabung dengan kata lain, tetapi telah memiliki arti yang sempurna].

خَرَجَ الغُلَامُ
(Pembantu/anak itu telah keluar)
[Contoh di atas adalah contoh untuk lafadz yang telah digabung dengan kata lain dan memiliki arti yang sempurna].

إِنْ خَرَجَ
(Jika dia keluar…)
[Contoh di atas adalah contoh untuk lafadz yang telah digabung dengan kata lain tetapi tidak memiliki arti yang sempurna. Walaupun demikian, contoh di atas tetap dianggap sebagai القول (ucapan)].

وخرج بقوله: (مفرد) الجملة، لأنها وإن كانت قولاً إلا أنها من المركب، وليست من المفرد.

Dengan ucapan beliau : مفرد ، keluarlah الجملة (kalimat). Karena walaupun kalimat termasuk ucapan, tetapi kalimat merupakan susunan beberapa kata, dan bukan mufrad (satu kata).

[Maksudnya, الجملة (kalimat) keluar dari definisi الْكَلِمَةُ (kata). Karena definisi الْكَلِمَةُ (kata) adalah قَوْلٌ مُفْرَدٌ (ucapan berupa sebuah kata yang belum digabung dengan kata lain). Sedangkan kalimat terdiri dari beberapa kata.

فـ (الكلمة) : لفظة واحدة تدل على معنى مفرد. مثل : باب. كتاب. وقد تستعمل أحياناً بمعنى : الكلام المفيد نحو : ألقيت في المسجد كلمة. قال تعالى : { كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا } (1) إشارة إلى قوله : { رَبِّ ارْجِعُون .. } ، وقال – صلى الله عليه وسلم – (الكلمة الطيبة صدقة) متفق عليه .

Jadi, الكلمة (kata) adalah sebuah lafadz yang menunjukkan makna yang belum digabung dengan yang lain. Contoh :
باب (pintu),
كتاب (buku).

Terkadang الكلمة digunakan untuk memaksudkan الكلام المفيد (kalimat yang sempurna).

[Maksudnya : terjemah asal dari lafadz الكلمة adalah ‘kata.’ Tetapi kadang bisa juga diterjemahkan dengan ‘kalimat.’]Contoh :
أَلْقَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ كَلِمَةً
(Saya menyampaikan sebuah kalimat di masjid). [Maksudnya : ceramah].

Allah ta’ala berfirman :
{ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا }
“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah kalimat yang diucapkannya saja.” (Al Mu’minun : 100)
Isyarat kepada ucapannya :
{ رَبِّ ارْجِعُون .. }
“Dia berkata: “Wahai Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia)…” (Al Mu’minun : 99).

[Kelengkapan ayat di atas :
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ. لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ” Wahai Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah kalimat yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (Al Mu’minun 99-100).

Jadi dalam ayat di atas, Allah ta’ala menggunakan lafadz كَلِمَةٌ, tetapi y

ang dimaksud dengannya adalah ‘kalimat’].

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Kalimat yang baik adalah sedekah.” (Muttafaqun ‘alaih).

قوله: (وهِيَ اسْمٌ وفِعْلٌ وحَرْفٌ) لما عَرَّف الكلمة, ذكر أنواعها وأنها ثلاثة: الاسم، والفعل، والحرف. والدليل على انحصار أنواعها في هذه الثلاثة:

١-الاستقراء والتتبع لكلام العرب.
٢-الحصر،
فإن الكلمة إما أن تدل على معنى في نفسها أو في غيرها. فإن دلت على معنى في نفسها فإما أن تشعر بهيئتها بأحد الأزمنة الثلاثة فهي الفعل: كقام، أو لاتشعر بزمن فهي الاسم مثل: عاصم. وإن دلت على معنى في غيرها فهي الحرف. نحو (في) فإنه لا يفيد معنى يستقل بالمفهومية بل لابد من من وضعه في جملة.

Ibnu Hisyam rahimahullah berkata :

(وهِيَ اسْمٌ وفِعْلٌ وحَرْفٌ)

Yaitu isim, fi’il, dan huruf.

Penyusun kitab Ta’jilun Nada, Syaikh Abdullah Al Fauzan hafidhahullah berkata :

Tatkala beliau telah selesai mendefinisikan kata, beliaupun menyebutkan pembagiannya, bahwa kata itu ada tiga jenis : isim, fi’il, dan huruf.

Dalil yang menunjukkan bahwa pembagian kata hanya terbatas kepada tiga jenis ini adalah :
1. Penelitian terhadap ucapan orang-orang Arab.

2. Pembatasan.
Karena yang namanya ‘kata’:

👉Bisa menunjukkan kepada makna yang ada pada dirinya sendiri, dan
👉bisa pula menunjukkan kepada makna yang ada pada kata lain.

Jika menunjukkan makna yang ada pada dirinya sendiri, maka :

✏️Kata itu -dengan bentuknya(1)- mengisyaratkan kepada salah satu dari tiga waktu, dan inilah yang disebut dengan fi’il. Contoh : قَامَ (Dia telah berdiri).

✏️Atau bisa pula tidak mengisyaratkan kepada waktu, dan inilah yang disebut dengan isim. Contoh : عَاصِمٌ (penjaga).

Jika kata itu menunjukkan kepada makna yang ada pada kata lain, maka itu adalah huruf. Misalnya : في (di, di dalam). Lafadz ini tidak memberi faidah makna yang bisa difahami jika lafadz ini masih sendirian. Jadi harus diletakkan dalam sebuah kalimat.

[Jika lafadz في masih sendiri, belum digabung dengan kata lain, maka makna yang ditunjukkannya tidak bisa difahami. Maknanya hanya : “di”. Sehingga masih tersisa pertanyaan, yaitu; “Apa dan di mana?” Jika sudah diletakkan dalam kalimat, baru bisa difahami, misal :
الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَة
ٍ“Pelita itu di dalam kaca.” (An Nur : 35).]

Catatan kaki :
(1). Yang dimaksud dengan ‘bentuk’ adalah keadaannya di dalam tashrif. Seperti قَامَ (Dia telah berdiri) untuk menunjukkan waktu yang telah lampau, يَقُوْمُ (Dia sedang/akan berdiri) untuk menunjukkan waktu sekarang dan akan datang, dan قُمْ (Berdirilah!) untuk menunjukkan waktu yang akan datang.
Adapun lafadz seperti أَمْسِ (kemarin) danالآنَ (sekarang) maka kedua kata ini menunjukkan kepada waktu dengan dzatnya, bukan dengan bentuknya (tashrifannya), sehingga keduanya bukanlah fi’il.

* * *

About admin 104 Articles
Reza Ervani - Pengajar Al Quran dan Bahasa Arab - reza@rumahilmu.or.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*