Manzhumah Baiquiniyah #4 : Pelajaran ke-2

Oleh : Ustadz Abu Asma Andre

Pelajaran 2 :

أوَّلُها ‏(‏الصحيحُ‏)‏ وهوَ ما اتَّصَلْ

” Yang awalnya adalah shahih, dimana shahih ( memiliki persyaratan ) : (1) ittishal

إسنادُهُ ولْم يُشَذّ أو يُعلّ

sanadnya (2) tidak syadz (3) tidak terdapat illal

يَرْويهِ عَدْلٌ ضَابِطٌ عَنْ مِثْلِهِ

(4) diriwayatkan dari adil dan (5) dhabt dari yang semisalnya

مُعْتَمَدٌ في ضَبْطِهِ ونَقْلِهِ

yang dijadikan sandaran dalam dhabt dan penukilannya

perkataan nazhim :

” yang awalnya, nya disini mengacu kepada ” sebagian cabang hadits yang akan dibahas dalam manzhumah ini.

maka beliau memulai dengan cabang yang pertama : Shahih, dimana hadits dikatakan shahih apabila memiliki 5 syarat :

  1. ittishal sanadnya : dimana Syaikh Ali Hasan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ittishal sanad adalah setiap perawi hadits mendengar hadits dari yang sebelumnya dan sesudahnya
  2. tidak terdapat syadz : dimana Syaikh Ali Hasan menjelaskan bahwa yang dimaksud syadz adalah riwayat dari seorang rawi yang maqbul ( riwayatnya diterima – apakah dalam derajat rawi shahih atau hasan ) menyelisihi rawi lain yang lebih utama darinya, baik dari segi jumlah ataupun ketsiqahan
  3. tidak terdapat illal : dimana Syaikh Ali Hasan menjelaskan bahwa yang dimaksud illal adalah sebab yang menjadikan hadits tersebut rusak keshahihannya walaupun secara dhahir nampaknya shahih
  4. adil ( ‘adalah ) adalah perawi yang memiliki sifat menjaga ketaqwaan dan menjauhkan diri dari perbuatan kemaksiatan dan meninggalkan hal hal yang dapat merusah harga dirinya dihadapan manusia
  5. dhabt : adalah kekuatan penjagaan, baik dalam masalah penjagaan hafalan ( dhabtus shadr ) ataupun penjagaan catatan ( dhabtul kitab )

Syaikh Mahmud Thahaan mendefinisikan hadits shahih sebagai berikut : “Hadits shahih adalah hadits yang bersambung sanadnya dengan penukilan perawi yang adil dan dhabt (terpercaya), dari orang yang semisalnya, sampai akhir sanadnya, dengan tanpa adanya syadz atau ’illah”.(Taisiir Mushthalah Al Hadiits hal 44)

ucapan Nazhim dengan berkata :

مُعْتَمَدٌ في ضَبْطِهِ ونَقْلِهِ

yang dijadikan sandaran dalam dhabt dan penukilannya

ini adalah isyarat bahwa yang diinginkan disini adalah shahih lidzatihi – hadits yang shahih dengan sebab dzatnya – artinya hadits tersebut memang sudah shahih tanpa membutuhkan bantuan dari hadits hadits lain yang menaikkannya kepada derajat shahih – atau biasa dikenal dengan istilah shahih lighairihi…

Lalu dari mana seseorang bisa mengetahui apakah seorang rawi mendengar riwayat dari syaikhnya – dengan memperhatikan hal hal berikut :

  1. shighat ( kalimat ) yang dipergunakan dalam menyampaikan dan mendengarkan hadits – atau yang biasa dikenal dengan shighat tahammul dan adaa
  2. dari tarikh yang memungkinkan kedua rawi tersebut bertemu
  3. dari persaksian seorang imam ahli hadits yang mumpuni dalam masalah ini.
About admin 105 Articles
Reza Ervani - Pengajar Al Quran dan Bahasa Arab - reza@rumahilmu.or.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*